Judul Resensi :
Novel Indonesia
Judul
Buku
: Ubur-Ubur Lembur
Penulis
: Raditya Dika
Penerbit
: Gagas Media
Jl. Haji Montong No. 57,Ciganjur-Jagakarsa,Jakarta Selatan 12630
Jl. Haji Montong No. 57,Ciganjur-Jagakarsa,Jakarta Selatan 12630
Tahun
Terbit
: 2018
Jumlah
Halaman : 232 Halaman
ISBN
: 978-979-780-915-7
Ukuran
Buku
: 13x20 cm
Sinopsis :
Buku
ini bercerita tentang banyak hal, mulai dari kisah cinta sampai
dengan hal yang sulit untuk dimengerti seperti cara pandang orang
lain dalam berpikir.
Seperti
saat Sally bercerita kepada Radit tentang hubungannya yang kandas dengan
kekasihnya, karena kekasihnya yaitu Adri mulai melarang nya mengambil pekerjaan
yang dia suka. Di dalam buku ini banyak diajarkan cara pandang cowok dan cewek
dalam menyikapi hubungan. Cara berpikir yang berbeda setiap manusia.
Radit
melihat bahwa Sally dan Adri telah tumbuh menjadi orang yang berbeda. Adri
tumbuh menjadi insecure, dia
merasa hanya karyawan biasa dengan cewek yang sudah menjadi model di majalah
ternama ibu kota, bahkan sampai diundang untuk bekerja di luar negeri. Ego Adri
mungkin terluka, sebagai seorang lelaki dia mungkin merasa kecil melihat
ceweknya lebih sukses daripada dia.
Selain
itu buku ini juga menyinggung tentang cara berpikir negatif orang-orang yang
kadang bisa membuat hati seseorang terluka.
‘hal
kedua yang gue enggak sempat kasih tau Iman adalah jadi orang yang dikenal
publik harus tahan asumsi-asumsi orang. Misalnya, orang-orang penuh dengan
asumsi yang salah.’
Banyak
hal lucu yang terjadi didalam buku ini. Kisah lucu dan sederhana yang
terkandung di dalam buku ini mampu menghibur para pembaca.
Buku
ini adalah karya dari seorang penulis terkenal yaitu Raditya Dika, karier nya
dimulai dengan menulis diary online lewat blog nya dan berujung terkenal, karena
tulisannya kemudian diangkat menjadi sebuah novel. Raditya Dika juga seorang
stand up comedian, tak heran jika tulisan dalam bukunya menarik dan mampu
membuat orang lain tertawa. Selain dua profesi yang tersebut tadi, Raditya Dika
juga adalah seorang sutradara dan produser film.
Buku ini
bukan hanya berisi tentang hal – hal yang lucu dan berbau romansa anak muda. Di
dalam buku ini juga memuat banyak cerita tentang perjalanan hidup.
‘gue
melihat orang yang bekerja kantoran tapi nggak sesuai dengan minat mereka itu
seperti seekor ubur-ubur lembur. Lemah,lunglai, hanya hidup mengikuti arus.
Lembur sampai malam, tapi nggak bahagia. Nggak menemukan sesuatu
yang membuat hidup mereka punya arti.’
Raditya
Dika juga menegaskan tentang cara menjalani hidup yang mungkin bisa dikatakan
sebagai cara hidup yang bahagia.
‘gue
percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita akan
mencintai hidup kita’
Mendengar
kutipan-kutipan kata-kata yang sangat berharga, saya mendapat banyak pelajaran
sebagai seorang pembaca dari membaca buku ini.
Berikut
saya tambahkan beberapa informasi tentang Ubur-Ubur Lembur :
Tema : Perjalanan Hidup
Semakin
gue menua, semakin gue melihat bahwa cita-cita yang dimiliki anak kecil terus
mengalami perubahan – hal 219
Tokoh : ada banyak tokoh
dalam buku ini,namun saya hanya akan menyebutkan beberapa tokoh saja,untuk
mengetahui lebih banyak tentang tokoh lainnya anda bisa membaca bukunya.
Raditya
Dika, Adri,Sally,Naya,Guntur,Bunga,Ben,Andi,Kris,Raja,Kathu,dll.
Alur : Maju
Mundur
kenapa
saya katakan alurnya maju mundur?karena pada bab sebelum nya menceritakan
tentang kisah yang terjadi setelah Raditya Dika lulus dari Sekolah Dasar (SD).
Dan pada bab selanjutnya terjadi kisah Raditya Dika saat duduk dibangku Sekolah
Dasar (SD).
Sore
itu gerimis turun terlalu deras. Gue masih kelas lima SD ketika pertama kali
bertemu dengan Kathu. Setiap sore gue biasanya main layangan bersama anak-anak
gang seberang. – hal 76
Latar : ada
banyak latar waktu,tempat,suasana dan sosial budaya yang terdapat di dalam buku
ini,namun saya akan mencantumkan salah satunya saja.
1. Latar
Waktu (pukul sebelas malam lewat sedikit)
Mobil
gue sampai di depan rumah Sally pukul sebelas malam lewat sedikit. – hal 11
2. Latar
Tempat (Kebun Binatang Ragunan)
Kebun
Binatang Ragunan hari itu terasa lebih sepi dari biasanya. – hal 19
3. Latar
Suasana (Mencekam)
Gue
lihat ke luar,langit masih belum gelap. Tapi, malam itu bulu kuduk gue nggak
bisa berhenti berdiri. – hal 130
4. Latar
Sosial Budaya
‘eh
tahu nggak apa yang gue sebelin dari nikah di Indonesia?’
‘apa?’
‘kalau
kita menikah sama seseorang,kita harus “menikah” juga sama keluarganya’
Sudut
Pandang : Orang pertama
sebagai pelaku utama
‘nggak
apa-apa’ balas gue. Gue nggak tahu mana yang lebih sakit: ditabrak sama anak
kecil, atau dipanggil Om.
Amanat :
melihat hidup secara optimis (tersurat)
Dari
membaca buku itu,dia merasa bahwa hidup itu bisa ditertawakan, dan semua
kesialan yang mungkin kita alami,bisa kok dilihat dari perspektif lain. Dia
mengaku dia belajar untuk melihat hidup secara optimis dengan membaca buku gue.
- hal 230
Perbandingan
novel Ubur-Ubur Lembur dengan novel komedi lainnya adalah :
Walaupun
novel Ubur-Ubur Lembur adalah novel komedi, tema dari novel ini adalah
perjalanan hidup. Tema ini saya nilai adalah tema yang cukup serius, dan untuk
menyampaikan pesan perjalanan hidup dibutuhkan cerita yang cukup serius dan
lumayan berat, dimana pembaca membutuhkan perasaan dan tingkat fokus yang tinggi
untuk memahami ceritanya.
Tetapi
di dalam novel ini, Raditya Dika mampu menyampaikan pesan yang cukup berat
tentang perjalanan hidupnya melalui cerita lucu dan pembaca mampu memahami
maksud yang disampaikan penulis disertai dengan gelak tawa. Cerita yang dikemas
dengan ringan dan mudah dipahami ini ternyata mengandung pesan yang lumayan
berat tentang kehidupan.
Novel
ini diangkat dari kisah nyata si penulis, dan kisah penulis itu belum berakhir.
Karena itu novel ini tidak memiliki cerita yang berkesinambungan. Bab-bab dalam
novel ini teracak tidak sesuai waktu dan menjelaskan kisah yang berbeda serta
tokoh yang berbeda pada setiap bab nya.
Komedi
yang ada di novel ini ringan dan tidak terkesan memaksa.
Kelemahan
buku :
Menurut
saya kelemahan buku ini hampir tidak ada.
Ada
beberapa materi stand up comedy yang sudah pernah dibawakan sebelumnya
dicantumkan di dalam buku ini. Sehingga untuk para fansnya Raditya
Dika buku ini mungkin akan membuat mereka membaca dan mengetahui hal yang sudah
pernah mereka ketahui sebelumnya.
Buku
ini lumayan mahal untuk para pembaca yang masih sekolah atau mahasiswa.
Tetapi
sebuah karya seni wajib dihargai, dan diapresiasi.
Kelebihan
buku
:
Cerita
yang dikemas dengan bahasa sehari-hari yang sederhana mampu memudahkan pembaca
dalam memahami isi buku ini.
Nilai kehidupan
yang terdapat di dalam buku ini dikemas secara rapih, terarah dan dibuat lucu,
sehingga para pembaca akan mampu menangkap pesan yang disampaikan penulis tanpa
merasa tersinggung.
Buku
ini juga berisi lelucon yang lucu tanpa harus menjelekkan atau menghina orang
lain.
Saya
sangat merekomendasikan novel ini untuk dibeli dan dibaca, selain karena isi
ceritanya yang seru dan mampu menghibur orang lain, sampul buku ini juga sangat
lucu dan bagus untuk di pajang bagi kalian sang pengkoleksi novel seperti saya.
Novel
ini juga dilengkapi dengan pembatas buku yang sangat lucu!
Biografi Penulis :
Dika Angkasaputra Moerwani atau
lebih dikenal dengan Raditya Dika adalah seorang penulis, Komedian, Sutradara,
dan Aktor.
Raditya Dika mengawali keinginan membukukan
catatan harian di blog pribadinya saat ia memenangi Indonesian Blog Award.
Raditya Dika juga pernah mendapatkan penghargaan bertajuk The Online Inspiring
Award 2009 dari Indosat. Dari pengalaman tersebut, ia mencetak
tulisan-tulisannya yang ada di blog lalu ia menawarkannya ke beberapa penebit
untuk dicetak sebagai buku. Awalnya banyak yang menolak, namun saat ia ke
Gagasmedia, sebuah penerbit buku,naskah itu diterima meski harus melakukan
presentasi terlebih dahulu.
Radit sukses menjadi penulis dengan keluar
dari arus utama. Ia tampil dengan genre baru yang segar, yang membuat ia
berbeda dari penulis lain adalah ide nama binatang yang selalu ia pakai dalam setiap bukunya. Dari buku pertama
hingga terbaru, semua judul mengandung nama binatang. Bagi Radit itu adalah Selling Point darinya.



