Saturday, November 30, 2019

Resensi Novel

Judul Resensi            : Novel Indonesia


Judul Buku                  : Ubur-Ubur Lembur

Penulis                         : Raditya Dika

Penerbit                       : Gagas Media
                                     Jl. Haji Montong No. 57,Ciganjur-Jagakarsa,Jakarta Selatan 12630

Tahun Terbit               : 2018

Jumlah Halaman         : 232 Halaman

ISBN                           : 978-979-780-915-7

Ukuran Buku              : 13x20 cm


Sinopsis                      :

Buku ini bercerita tentang banyak hal, mulai  dari kisah cinta sampai dengan hal yang sulit untuk  dimengerti seperti cara pandang orang lain dalam berpikir.

Seperti saat Sally bercerita kepada Radit tentang hubungannya yang kandas dengan kekasihnya, karena kekasihnya yaitu Adri mulai melarang nya mengambil pekerjaan yang dia suka. Di dalam buku ini banyak diajarkan cara pandang cowok dan cewek dalam menyikapi hubungan. Cara berpikir yang berbeda setiap manusia.

Radit melihat bahwa Sally dan Adri telah tumbuh menjadi orang yang berbeda. Adri tumbuh menjadi insecure, dia merasa hanya karyawan biasa dengan cewek yang sudah menjadi model di majalah ternama ibu kota, bahkan sampai diundang untuk bekerja di luar negeri. Ego Adri mungkin terluka, sebagai seorang lelaki dia mungkin merasa kecil melihat ceweknya lebih sukses daripada dia.
Selain itu buku ini juga menyinggung tentang cara berpikir negatif orang-orang yang kadang bisa membuat hati seseorang terluka.

‘hal kedua yang gue enggak sempat kasih tau Iman adalah jadi orang yang dikenal publik harus tahan asumsi-asumsi orang. Misalnya, orang-orang penuh dengan asumsi yang salah.’

Banyak hal lucu yang terjadi didalam buku ini. Kisah lucu dan sederhana yang terkandung di dalam buku ini mampu menghibur para pembaca.

Buku ini adalah karya dari seorang penulis terkenal yaitu Raditya Dika, karier nya dimulai dengan menulis diary online lewat blog nya dan berujung terkenal, karena tulisannya kemudian diangkat menjadi sebuah novel. Raditya Dika juga seorang stand up comedian, tak heran jika tulisan dalam bukunya menarik dan mampu membuat orang lain tertawa. Selain dua profesi yang tersebut tadi, Raditya Dika juga adalah seorang sutradara dan produser film.

Buku  ini bukan hanya berisi tentang hal – hal yang lucu dan berbau romansa anak muda. Di dalam buku ini juga memuat banyak cerita tentang perjalanan hidup.

‘gue melihat orang yang bekerja kantoran tapi nggak sesuai dengan minat mereka itu seperti seekor ubur-ubur lembur. Lemah,lunglai, hanya hidup mengikuti arus. Lembur sampai malam, tapi  nggak bahagia. Nggak menemukan sesuatu yang membuat hidup mereka punya arti.’

Raditya Dika juga menegaskan tentang cara menjalani hidup yang mungkin bisa dikatakan sebagai cara hidup yang bahagia.

‘gue percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita  akan mencintai hidup kita’
Mendengar kutipan-kutipan kata-kata yang sangat berharga, saya mendapat banyak pelajaran sebagai seorang pembaca dari membaca buku ini.

Berikut saya tambahkan beberapa informasi tentang Ubur-Ubur Lembur :

Tema                      : Perjalanan Hidup

Semakin gue menua, semakin gue melihat bahwa cita-cita yang dimiliki anak kecil terus mengalami perubahan – hal 219

Tokoh                    : ada banyak tokoh dalam buku ini,namun saya hanya akan menyebutkan beberapa tokoh saja,untuk mengetahui lebih banyak tentang tokoh lainnya anda bisa membaca bukunya.

Raditya Dika, Adri,Sally,Naya,Guntur,Bunga,Ben,Andi,Kris,Raja,Kathu,dll.

Alur                         : Maju Mundur
kenapa saya katakan alurnya maju mundur?karena pada bab sebelum nya menceritakan tentang kisah yang terjadi setelah Raditya Dika lulus dari Sekolah Dasar (SD). Dan pada bab selanjutnya terjadi kisah Raditya Dika saat duduk dibangku Sekolah Dasar (SD).

Sore itu gerimis turun terlalu deras. Gue masih kelas lima SD ketika pertama kali bertemu dengan Kathu. Setiap sore gue biasanya main layangan bersama anak-anak gang seberang. – hal 76

Latar                      : ada banyak latar waktu,tempat,suasana dan sosial budaya yang terdapat di dalam buku ini,namun saya akan mencantumkan salah satunya saja.

1.      Latar Waktu (pukul sebelas malam lewat sedikit)
Mobil gue sampai di depan rumah Sally pukul sebelas malam lewat sedikit. – hal 11

2.      Latar Tempat (Kebun Binatang Ragunan)
Kebun Binatang Ragunan hari itu terasa lebih sepi dari biasanya. – hal 19

3.      Latar Suasana (Mencekam)

Gue lihat ke luar,langit masih belum gelap. Tapi, malam itu bulu kuduk gue nggak bisa berhenti berdiri. – hal 130

4.      Latar Sosial Budaya
‘eh tahu nggak apa yang gue sebelin dari nikah di Indonesia?’
‘apa?’
‘kalau kita menikah sama seseorang,kita harus “menikah” juga sama keluarganya’

Sudut Pandang          : Orang pertama sebagai pelaku utama

‘nggak apa-apa’ balas gue. Gue nggak tahu mana yang lebih sakit: ditabrak sama anak kecil, atau dipanggil Om.

Amanat                       : melihat hidup secara optimis (tersurat)


Dari membaca buku itu,dia merasa bahwa hidup itu bisa ditertawakan, dan semua kesialan yang mungkin kita alami,bisa kok dilihat dari perspektif lain. Dia mengaku dia belajar untuk melihat hidup secara optimis dengan membaca buku gue. -  hal 230

Perbandingan novel Ubur-Ubur Lembur dengan novel komedi lainnya adalah :

Walaupun novel Ubur-Ubur Lembur adalah novel komedi, tema dari novel  ini adalah perjalanan hidup. Tema ini saya nilai adalah tema yang cukup serius, dan untuk menyampaikan pesan perjalanan hidup dibutuhkan cerita yang cukup serius dan lumayan berat, dimana pembaca membutuhkan perasaan dan tingkat fokus yang tinggi untuk memahami ceritanya.

Tetapi di dalam novel ini, Raditya Dika mampu menyampaikan pesan yang cukup berat tentang perjalanan hidupnya melalui cerita lucu dan pembaca mampu memahami maksud yang disampaikan penulis disertai dengan gelak tawa. Cerita yang dikemas dengan ringan dan mudah dipahami ini ternyata mengandung pesan yang lumayan berat tentang kehidupan.

Novel ini diangkat dari kisah nyata si penulis, dan kisah penulis itu belum berakhir. Karena itu novel ini tidak memiliki cerita yang berkesinambungan. Bab-bab dalam novel ini teracak tidak sesuai waktu dan menjelaskan kisah yang berbeda serta tokoh yang berbeda pada setiap bab nya.
Komedi yang ada di novel ini ringan dan tidak terkesan memaksa.


Kelemahan buku         :

Menurut saya kelemahan buku ini hampir tidak ada.
Ada beberapa materi stand up comedy yang sudah pernah dibawakan sebelumnya dicantumkan di dalam buku ini. Sehingga  untuk para fansnya Raditya Dika buku ini mungkin akan membuat mereka membaca dan mengetahui hal yang sudah pernah mereka ketahui sebelumnya.

Buku ini lumayan mahal untuk para pembaca yang masih sekolah atau mahasiswa.

Tetapi sebuah karya seni wajib dihargai, dan diapresiasi.



Kelebihan buku           :

Cerita yang dikemas dengan bahasa sehari-hari yang sederhana mampu memudahkan pembaca dalam memahami isi buku ini.

Nilai  kehidupan yang terdapat di dalam buku ini dikemas secara rapih, terarah dan dibuat lucu, sehingga para pembaca akan mampu menangkap pesan yang disampaikan penulis tanpa merasa tersinggung.

Buku ini juga berisi lelucon yang lucu tanpa harus menjelekkan atau menghina orang lain.

Saya sangat merekomendasikan novel ini untuk dibeli dan dibaca, selain karena isi ceritanya yang seru dan mampu menghibur orang lain, sampul buku ini juga sangat lucu dan bagus untuk di pajang bagi kalian sang pengkoleksi novel seperti saya.


Novel ini  juga dilengkapi dengan pembatas buku yang sangat lucu!




Biografi Penulis          :


Dika  Angkasaputra  Moerwani atau lebih dikenal dengan Raditya Dika adalah seorang penulis, Komedian, Sutradara, dan Aktor.

Raditya Dika mengawali keinginan membukukan catatan harian di blog pribadinya saat ia memenangi Indonesian Blog Award. Raditya Dika juga pernah mendapatkan penghargaan bertajuk The Online Inspiring Award 2009 dari Indosat. Dari pengalaman tersebut, ia mencetak tulisan-tulisannya yang ada di blog lalu ia menawarkannya ke beberapa penebit untuk dicetak sebagai buku. Awalnya banyak yang menolak, namun saat ia ke Gagasmedia, sebuah penerbit buku,naskah itu diterima meski harus melakukan presentasi terlebih dahulu.
Radit sukses menjadi penulis dengan keluar dari arus utama. Ia tampil  dengan genre baru yang segar, yang membuat ia berbeda dari penulis lain adalah ide nama binatang yang selalu ia pakai dalam setiap bukunya. Dari buku pertama hingga terbaru, semua judul mengandung nama binatang. Bagi Radit itu adalah Selling Point darinya.